Tumpang Pitu, Kado Indah di bawah Ancaman Sianida

Tumpang Pitu, Kado Indah di bawah Ancaman Sianida

Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

Perkenalan pertama saya dengan kaki Gunung Tumpang Pitu terjadi 3 hari setelah tsunami melanda Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi. Tepatnya menjelang ashar pada hari Senin 6 Juni 1994. Kenapa saya bisa begitu ingat? Karena pagi harinya merupakan salah satu momen penting dalam hidup saya. Di hari itulah saya membubuhkan 3 jari saya ke ijazah SMA.

Selain puing-puing rumah, runtuhan tambak, dan tentara-tentara yang rehat, angin yang berhembus kencang dari arah tenggara juga jadi penyambut awal panca-indera saya. Maklumlah waktu itu musim timur sedang berlangsung, musim dimana angin tenggara sedang kencang-kencangnya. Meski biasanya musim timur berpuncak pada bulan Juli-Agustus, namun angin kencang pada Juni 17 tahun silam itu telah memaksa saya untuk segera mengancingkan kemeja flanel saya yang sebelumnya terbuka.

Rasanya, tak salah jika ada warga setempat yang menyebut G. Tumpang Pitu sebagai benteng angin. Saya telah membuktikan pendapat ini sejak 17 tahun lalu. Seandainya gunung setinggi lebih kurang 450 mdpl itu tak ada, maka niscaya angin yang mendera saya akan jauh lebih kencang hembusannya. Gunung dengan variasi kemiringan 8-40% itu telah berjasa memecah angin tenggara, sehingga kekuatannya terkurangi begitu sampai di Dusun Pancer.

Tak cuma jadi benteng angin. Gunung berstatus hutan lindung itu juga jadi patokan arah pulang nelayan Pancer. Adalah Sumarno, nelayan yang pernah melaut hingga 80 mil dengan menggunakan perahu tradisional itu yang menceritakannya pada saya.
“Jika saya telah mencapai jarak 50 mil, maka daratan Jawa akan mulai terlihat sebagai garis tipis. Jika daratan Jawa sudah hilang dari pandangan, itu artinya saya telah memasuki jarak 60 mil,” tuturnya saat saya jumpai di rumahnya pertengahan tahun 2008 lalu.
Saya pun bertanya apa yang menyebabkan dia begitu berani melayari segara kidul (laut selatan) yang terkenal ganas itu?
“Faktor perut, mas. Nelayan itu ndak takut mati, tapi takut lapar,” jawabnya sambil terkekeh.
Ketika saya menyampaikan kekaguman saya atas keberaniannya, sontak Sumarno menepisnya. Dia menganggap melaut hingga 80 mil adalah hal biasa yang tak perlu dikagumi. “Malu, mas. Karena ada teman saya yang sudah tembus sampai 100 mil,” katanya.

Selain jadi patokan arah pulang nelayan Pancer, gunung yang memiliki ketebalan solum lebih dari 30 cm itu juga berjasa menjamin ketersediaan air bagi warga yang hidup di sekelilingnya. Sebagai catchment area (kawasan tangkapan air), gunung yang berada dalam pengelolaan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan ini secara hidro-orologis merupakan salah satu kawasan penting bagi daur air Jawa Timur. Karena itu, tak berlebihan jika pada era Gubernur Imam Utomo, Pemprop Jatim lewat Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) menetapkannya sebagai “Kawasan Potensi Air Bawah Tanah” dengan kategori sangat tinggi. Dokumen RTRWP era Gubernur Imam Utomo pun menahbiskannya sebagai kawasan yang memiliki potensi air bawah tanah sebesar 30 liter perdetik. Potensi ini jauh di atas rata-rata potensi air bawah tanah Desa Sumber Agung yang berkisar 15-20 liter perdetik (kategori sedang).

Dengan potensi air bawah tanah sebanyak itu, tidaklah heran jika hutan lindung yang bercurah hujan rata-rata 0,7-13,6 mm itu juga menjadi rumah yang nyaman bagi flora seperti : Jambu hutan (Eugenia sp), Akasia (Acacia auriculiformis), Ketangi/bungur (Lagerstromia speciosa), Asem (Tamarindus indicus), Nangka (Artocarpus integra), Johar (Cassia siamea), Buni (Antidesma bunius), Beringin (Ficus benjamina), Petai hutan (Parkia sp.), Mangga hutan (Mangifera ordorata), Jati (Tectona grandis), Bambu (Bambusa sp.), Kemlandingan (Leucaena glauca), Kerinyu (Euphatorium palescens), Sirih hutan (Piper aduncum), Suweg (Amorphopalus companulatus).

Hutan lindung seluas 1.251,5 ha ini juga jadi tempat hidup mamalia seperti : Babi Hutan (Sus vittatus), monyet (Macaca fascicularis), Kijang (Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus unicolor), Bajing, Landak, dan Musang.

Jenis burung juga menghuni hutan yang memiliki kelembaban rata-rata 78,75% ini, seperti; Burung Gereja (Passer montanus), Kuntul Cina (Egretta eulophotus), Perkutut (Geopelia striata), Pipit (Lonchura sp), Prenjak (Prinia flaviventris), Sikatan (Cyornis concreta), dan Tekukur (Streptophylia chinensis), Ayam Hutan (Gallus bankiva), dan Camar Laut. Raptor (burung pemangsa) juga sempat terlihat disana.

Tak hanya hutan G. Tumpang Pitu yang jadi rumah bagi fauna, laut yang berada di kaki
G. Tumpang Pitu juga jadi tempat hunian yang nyaman bagi ikan-ikan yang umumnya ditangkap nelayan, seperti : Tongkol, Layur, Layang, Pari, Bengkunis Ekor Kuning, Bawal, Kembung, Selar, dan Rajungan.

Nyamannya laut di kaki G. Tumpang Pitu sebagai hunian ikan-ikan itu pula yang menjadikan Pancer sebagai salah satu sentra penghasil ikan yang penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Terbukti, dalam talk show “Hari Nelayan Indonesia” yang disiarkan Radio VIS FM pada tanggal 6 April 2011 lalu, Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi secara gamblang menyatakan, 3 titik penting perikanan kelautan Kab. Banyuwangi adalah Muncar, Grajagan, dan Pancer.

Hal itu juga dikuatkan oleh pengakuan Mursyid, seorang pengepul kerang asal Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran. Pengepul berusia 48 tahun ini menuturkan, tidak kurang dari 200 orang terlibat dalam alur produksi kerang yang biasanya dikirim ke Surabaya itu. Menurut Mursyid, kerang yang dikirim ke ibukota Jawa Timur tersebut kisarannya 5-6 kuintal tiap bulannya. Kerang-kerang yang diperoleh di kawasan Lampon, kaki Tumpang Pitu, dan Permisan itu dalam setiap bulannya telah menghasilkan putaran uang sebanyak 70 juta rupiah. Dari putaran uang sebanyak itu, Mursyid mengaku jika hasil bersih untuk dirinya seorang berkisar 6-10 juta rupiah perbulan.

Pendek kata, Tumpang Pitu adalah anugerah bagi lebih dari 30.000 orang warga Kec. Pesanggaran. Tumpang Pitu—mulai dari bentang alamnya, hutannya, hingga laut yang mengombak di kakinya—merupakan kado indah dari Tuhan bagi keberlangsungan hidup warga Kec. Pesanggaran. Belum lagi keindahan panorama pantai pasir putihnya yang berpadu dengan Pulau Merah. Benar-benar magma pariwisata yang belum tergarap optimal.

Namun, kado indah dari Tuhan itu kini berada di bawah bayang-bayang ancaman dampak pertambangan emas. Jika PT Indo Multi Niaga (IMN) nantinya dilegalkan mengeksploitasi emas yang dikandung Tumpang Pitu, maka maka bayang-bayang ancaman dampak emas akan menghantui ketersediaan air bagi warga, dan juga nasib dunia pertanian di sekitar Tumpang Pitu. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengkaji, jika nantinya IMN dibolehkan mengeksploitasi emas Tumpang Pitu, maka perusahaan yang dinahkodai Andreas Reza itu akan menghisap air sebanyak 2,038 juta liter perhari demi kepentingan pengolahan emas. Tentu bukanlah sebuah hisapan air yang kecil, dan tentu pula akan mempengaruhi keberlangsungan hidup warga Kec. Pesanggaran yang 82,85 %-nya adalah petani.

Kegemilangan dunia perikanan laut—khususnya kerang—di kaki G. Tumpang Pitu kini juga berada di bawah bayang-bayang ancaman dampak pertambangan emas. Jatam juga menganalisis, jika IMN diijinkan melakukan eksploitasi emas, maka nantinya IMN akan menggelontor Teluk Pancer dengan tailing (limbah tambang) sebanyak 2.361 ton perhari. Lungsuran tailing sebanyak 2.361 ton perhari ke Teluk Pancer tak hanya akan jadi kabar buruk bagi kampung-kampung nelayan tetangga Tumpang Pitu, seperti : Lampon, Grajagan, dan Rajegwesi. Tetapi juga akan memupus impian pengembangan industri wisata Pulau Merah.

Tailing sebanyak 2.361 ton perhari, sungguh! Ini bukan angka yang main-main! Jika tailing PT Newmont Minahasa Raya (NMR) sebanyak 2.000 ton perhari saja telah membuat banyak persoalan di Teluk Buyat, Minahasa, maka bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika IMN diperkenankan mengeksploitasi emas Tumpang Pitu? Mengingat jumlah tailing IMN nantinya selisih 361 ton lebih banyak jika dibandingkan dengan tailing NMR.

Bayangkan pula, bagaimana jika tsunami justru terjadi ketika Teluk Pancer telah berubah jadi “kolam” tailing? Pastilah akan berbeda dengan tsunami 1994, karena tak hanya air laut yang akan menghempas Pancer, tetapi juga ribuan ton sianida. Ini bukanlah kekhawatiran yang berlebihan, karena pada saat tulisan ini saya ketik, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja menetapkan Indonesia sebagai Peringkat Pertama Dunia untuk kategori negara paling berresiko tsunami.

Kecamatan Pesanggaran—terutama Dusun Pancer—adalah kawasan rawan bencana alam (wa bil khusus tsunami). Menghadirkan industri ekstraktif berresiko tinggi—seperti pertambangan emas—tentunya bukanlah tindakan arif. Tsunami memang bencana alam yang tak pernah kita ketahui kapan datangnya. Tsunami memang hak prerogratif Tuhan yang tak secuil pun kita mampu membatalkannya. Namun alangkah naif-nya, jika kita masih menambah bahaya tsunami tersebut dengan bahaya sianida. Lebih naif lagi, isu tsunami ataupun keberadaan Pancer sebagai kawasan rawan bencana sama sekali tak disebut-sebut dalam Analisis Dampak Lingkungan (Andal) IMN.

Akankah kita menambah arus pusaran ke-naif-an ini dengan mendukung rencana eksploitasi emas berkonsesi seluas 11.621 ha itu? Ataukah kita memilih untuk memutus rantai ke-naif-an itu dengan berjuang mengadvokasinya demi keselamatan hidup di masa mendatang? Pilihan dan sikap kita hari ini akan menentukan kualitas hidup macam apakah yang akan kita wariskan kepada anak-cucu kita nanti.*****

Banyuwangi, 11 Agustus 2011

//////////////////////////////////////////

**penulis adalah relawan Kappala Indonesia (2000-sekarang)
**esai di atas dimuat di Buletin “Pakem” no. 1 November 2011, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia koordinasi daerah Jawa Timur (FK3I korda Jatim).
**keterangan foto : Judul “Makam Pulau Merah”, karya : TTH, 3 Juli 2011. Canon EOS 1000D, F 5.6, 1/125, ISO 100.

This entry was posted on Saturday, December 3rd, 2011 at 9:45 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply