Aku Adalah Kamu (Dialog Dini Hari): Tarian Jiwa-Jiwa Pendamba Keselarasan Hidup

Aku Adalah Kamu (Dialog Dini Hari):
Tarian Jiwa-Jiwa Pendamba Keselarasan Hidup

oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

Beginilah jadinya jika egalitarianisme dan universalitas dituturkan oleh musisi. Bisa jadi substansinya sama dengan yang diusung para pejuang HAM dan anti-rasialisme, namun daya ungkapnya beda. Nilai-nilai semacam itu jadi lebih estetis dan artistik ketika didenyarkan oleh musisi. Ini pula yang akan kita temukan dalam lagu Dialog Dini Hari yang berjudul Aku adalah Kamu.

Tanpa rumus-rumus mentereng, band yang lahir pada akhir kuartal pertama 2008 ini, bertutur tentang pentingnya menjaga harmoni. Lewat idiom-idiom keseharian seperti: matahari, bulan, tanah, dan udara, band yang merupakan “hasil reaksi kimiawi” antara blues, folk dan ballad ini dengan cerdik mengajak kita untuk tidak menajam-najamkan perbedaan. Tetapi ajakan itu, tetap saja ajakan khas Dialog Dini Hari yang bersahaja tetapi bermakna. Ajakan tanpa kosmetika retorika, tetapi tetap anggun. Ajakan yang memilik kedalaman, tetapi tetap jauh dari kesan menggurui. Dan tentu saja, tetap pada kredo akustik yang sejak awal dipilih sebagai alat ucap.

Tak hanya di lini lirik, pesan damai tentang pentingnya mengarifi perbedaan tersebut secara tersirat juga bisa kita tangkap dari racikan bunyi-bunyian yang mereka usung. Pastilah bukan tanpa maksud jika dalam lagu Aku adalah Kamu ini, band yang beranggotakan Dadang SH Pranoto (vokal & gitar), Michael Brozio Orah (bass) dan Putu Deny Surya Wibawa (drum) ini mengundang musisi lain. Dengan melibatkan musisi lintas genre, Dialog Dini Hari seakan ingin mempraktekkan secara nyata bagaimana mengelola perbedaan itu. Dengan mengundang musisi lain seperti Adrian Adioetomo (pemain slide gitar Delta-blues Jakarta), Afan (pemain perkusi Animo), Gus Bim (pianis Cool Water), Raoul Wijffels (pemain akordion asal Belanda), Latu Revolis Didandu (pemain biola asal Banyuwangi), Vivi Mambo (backing vocal), dan Iin (backing vocal), Dialog Dini Hari seakan menyindir, jika para musisi yang memiliki sekian perbedaan prinsipil bisa menyelaraskan diri, harusnya pihak lain pun bisa.

Lagu Aku adalah Kamu ini memberi ruang ucap yang sama kepada semua musisi yang terlibat, termasuk juga kepada Kikan Cokelat dan Roby Navicula. Namun karena semangat egaliternya sejak awal sudah mengkristal, maka sekian karakter yang diberi ruang ucap itu tak lantas saling beradu eksistensi.

Meski sejak awal semua musisi yang terlibat diberi keleluasan yang sedemikan lapangnya untuk mengaktualisasikan karakter musikalnya, lagu ini tak lantas hilang keseimbangan arransemennya. Ibarat sebuah ritus, lagu ini ramai tetapi tak kehilangan nilai kontemplatifnya.

Segenap notasi—terutama biola dan akordion—seakan menari-nari mengikuti detak riang yang bersumber dari energi segar Deny Surya. Hasilnya, lagu ini tak hanya jadi sebentuk komposisi bebunyian yang melegakan, tetapi bahkan mirip tarian jiwa-jiwa pendamba keselarasan hidup.*****

keterangan:
Desain poster oleh: Dunie Djanuartha
Direkam di studio Pregina
Mixing & Mastering lagu oleh Deny Surya-Antida Studio

untuk mendapatkan single Dialog Dini Hari yang berjudul “Aku adalah Kamu”, anda bisa klik tautan berikut ini:

http://www.4shared.com/file/144116291/c58d64c2/Dialog_Dini_Hari_feat_Kikan_Coklat__Robi_Navicula_-_Aku_Adalah_Kamu.html

Poster Single "Aku Adalah Kamu" (desain: Dunie Djanuartha)



Blues di Bulan Syawal 1430 H

Blues di Bulan Syawal 1430 H

Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

“Payung dan Hujan Daunan”

Pada dhuhur 1 Syawal 1430 H lalu, Dandu—seorang kawan yang kini tinggal di Bali sebagai pemain biola—bertandang ke rumah saya. Seusai bermaaf-maafan dan berkisah tentang kegiatan terbarunya, dia pun bercerita tentang Andre, seorang gitaris blues yang mengadu nasib di kafe-kafe Bali, Sulawesi, dan Kalimantan. Andre adalah musisi yang tak hanya mengandalkan bakat yang dikaruniakan Tuhan, tetapi juga mengasahnya dengan bersekolah musik di salah satu institut kesenian Amerika.

Setelah mengikuti beberapa kelas yang mengajarkan sekian genre, sampailah Andre pada kelas blues yang sejak dulu dia idamkan. Jika di perkuliahan “konservatif”, biasanya dalam satu kelas hanya ada seorang dosen yang mengajar segenap mahasiswa penempuh mata kuliah, maka kelas blues ini lain. Dalam kelas blues tersebut terdapat 2 orang dosen. Setiap mahasiswa harus antri satu persatu untuk mendapatkan kuliah blues. Dan satu hal yang tak boleh dilupakan mahasiswa adalah membawa kartu antrian. Masing-masing mahasiswa diberi jatah 15 menit untuk mendapatkan pengajaran 2 dosen tersebut.

Namun, bukan teknik pengajaran tersebut yang menarik perhatian Andre. Yang membuatnya penasaran, kenapa banyak sekali mahasiswa yang keluar dari kelas blues itu lebih cepat dari jatah waktu 15 menit? Juga mengapa mereka keluar dengan wajah penuh amarah sambil mengumpat.

Syahdan, sampailah giliran Andre masuk kelas. Mulanya Andre menduga, kualitas skill dan teknik bluesy-nya akan diuji, namun dugaannya itu salah. Salah satu dosen itu bertanya, “Apa moment tersedih dalam hidupmu?” Andre pun menjawab, “Moment tersedih saya adalah ketika saya tak punya uang.”

Kemudian dosen yang satu lagi bertanya, “Apakah rasa sedih yang diakibatkan moment tersebut hingga kini masih terasa?” Kembali Andre menjawab, “Ah, kalau sekarang sih, sudah tidak terasa lagi, karena saat ini saya punya uang.”

Demi mendengar jawaban tersebut, Dosen itu pun berkata, “Fine!, kalau begitu, anda segera keluar dari kelas ini!” Dengan heran, marah, dan perasaan tak terima Andre pun keluar.

Kurang lebih 2 bulan kemudian, tanpa diduga, suatu pagi Andre memergoki salah satu dosennya tengah bermain gitar di sebuah sudut taman kota. Di bawah langit cerah, dengan penuh penghayatan, dosennya memainkan lagu-lagu bluesy. Diam-diam, Andre menikmati permainan blues dosennya itu. Dia menunggu saat yang tepat menghampiri dosennya, dengan harapan jika waktu yang tepat itu datang dia pun bisa berdiskusi panjang-lebar tentang apa yang terjadi di kelas blues waktu lalu.

Ketika waktu yang tepat itu datang, Andre pun menghampiri dosennya. Setelah beberapa menit berbasa-basi, akhirnya keduanya tenggelam dalam diskusi blues yang serius. Salah satunya, Andre bertanya, mengapa sang dosen menanyakan apa moment tersedih dalam hidupnya? Juga apa hubungan pertanyaan tersebut dengan blues? Atau tepatnya, seberapa penting sih pertanyaan tersebut bagi seorang musisi blues.

Beberapa jenak kemudian, dosennya bercerita tentang sejarah kelahiran musik blues yang sangat terkait dengan penindasan yang dilakukan kaum kulit putih terhadap budak-budak berkulit gelap. Menurut dosennya, blues lahir dari suasana penuh penderitaan dan kesedihan, karena itu menangkap rasa sedih, atau berupaya merasakan rasa sedih itu penting! Bahkan, agar bisa mengapresiasi kesedihan dan merasakan suasana penindasan tersebut, sang dosen sengaja melakukan napak tilas, berjalan kaki ke tempat-tempat yang disebut-sebut dalam buku sejarah blues. Lebih dari itu, sang dosen juga berupaya meniru beberapa rutinitas budak kulit hitam, yakni dengan berjalan kaki di tengah ladang pada pagi hari, lalu dengan kelelahan yang cukup dia memainkan blues di malam hari. Tujuannya tak lain untuk menangkap atmosfer sejarah blues, dan mengapresiasi spirit serta soul musik blues sebagai musik kaum terpinggirkan. Jadi, menurut sang dosen, yang terpenting bukan hanya bagaimana mentransfer ilmu, atau sekadar mewariskan skill, tetapi juga bagaimana “mengapresiasi” dan “merasakan”.

Dalam ranah sastra, hal tersebut pernah dilakukan penyair Umbu Landu Paranggi—guru Emha Ainun Nadjib dan Ebiet G. Ade—kurang lebih 35 tahun lalu di Yogyakarta. Murid-murid Umbu yang kebanyakan adalah penulis berbakat, macan diskusi, dan komentator ulung itu, kerapkali diajak Umbu berjalan kaki keluar-masuk kampung-kampung Yogyakarta. “Ritual” jalan kaki yang dilakukan sebelum acara diskusi digelar ini, memiliki aturan yang pantang dilanggar. Yakni selama prosesi jalan kaki tersebut berlangsung, murid-murid Umbu dilarang berbicara sepatah kata pun. Selama perjalanan, segenap murid diminta untuk mengoptimalkan seluruh panca-indera kecuali mulut. Murid-murid yang terbiasa berbicara di dalam forum diskusi, yang terlatih berbicara lewat artikel media massa, dan yang terasah mengomentari banyak hal itu, harus menahan diri untuk tak berbicara. Semua murid harus menahan ego-nya dengan cara lebih banyak melihat, mendengar, merasakan dan mengapresiasi semua kenyataan yang ditemuinya selama perjalanan. Percakapan dan diskusi hanya boleh dilakukan di waktu dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya.

Apa yang dilakukan sang dosen blues dan Umbu Landu Paranggi itu selaras dengan metode Appreciative Inquiry Learning (pembelajaran melalui penyelidikan/penelusuran apresiatif), yang “kredo”-nya berbunyi; it’s important for someone how to know something, but it’s more important for him how to feel and experience it (adalah penting bagaimana seseorang itu menjadi tahu, tetapi lebih penting lagi bagi dia bagaimana merasakan dan mengalaminya).

Begitu juga dengan Ramadhan yang baru saja kita tinggalkan. Ramadhan sesungguhnya adalah Appreciative Inquiry Learning bagi kita, baik secara individual maupun sosial. Dengan Ramadhan, kita tidak hanya tahu apa itu kemiskinan, dan siapakah kaum miskin itu. Dengan Ramadhan, kita tidak hanya tahu apa itu marjinalisasi (peminggiran), dan siapakah kaum yang terpinggirkan itu. Namun lebih dari itu, Ramadhan mengajarkan, bahwa dengan lapar kita belajar merasakan dan mengapresiasi apa yang dirasakan fakir-miskin dan kaum tertindas. Dengan Ramadhan kita belajar mengalami laparnya kaum lemah.

Tak cukup hanya belajar merasakan dan mengapresiasi kaum marjinal. Seusai Ramadhan kita pun belajar bersikap dan melakukan aksi nyata lewat zakat fitrah. Jika Appreciative Inquiry Learning menekankan pentingnya merasa dan mengapresiasi, maka Ramadhan dan Idul Fitri lebih dari itu. Ramadhan dan Idul Fitri saling berjalin-berkelindan membumikan “merasa” dan “mengapresiasi”.

Pertanyaannya, setelah sebulan penuh belajar membumikan “merasa” dan mengapresiasi”, akankah dampaknya tetap terasa pada bulan-bulan lainnya? Akankah dampaknya berubah menjadi motivasi dan energi positif yang setiap saat mewarnai sikap-sikap kita? Ah, hidup memanglah belajar, belajar, dan terus belajar. *****

[[[[[]]]]]

*** esai ini didedikasikan untuk Latu Revolis Didandu, Dadang SH Pranoto (vokalis/gitaris “Dialog Dini Hari”), dan musisi-musisi yang berjuang mempertahankan hidupnya di Bali. Selain termuat di Harian Radar Banyuwangi edisi 27 September 2009, esai ini juga bisa diakses di www.ketanduren.blog.com

rosdi_gambar-2004_payung-hujan-daunan_002



Rehat, Tidur, dan Kepentingan Tuhan

Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

“…Rehat sekejap, kita perlu istirahat
Rehat sekejap, jerat nafsu menggelar tawa
Rehat sekejap, lepaskan beban buka cadar
Rehat sekejap, syukuri nikmati anugerah…”

(kutipan lagu “Rehat Sekejap”, artis: Dialog Dini Hari, album: “Beranda Taman Hati)

Yang terlihat tidur dalam foto tersebut adalah Rizky Firmansyah yang akrab dipanggil Pingping oleh teman-temannya. Mahasiswa semester 3 Teknik Informatika, Politeknik Banyuwangi (Poliwangi) itu memang dalam kondisi sakit ketika gambarnya diambil oleh Aner Sandi Basmala, rekannya satu perjalanan ketika menuju ke Kawah Ijen (2.386 m dpl).

Ceritanya, Pingping berangkat dari Banyuwangi pada 15 Agustus 2009. Namun, diluar dugaannya, sesampai di Paltuding (lokasi perkemahan yang terletak kurang lebih 3 Km dari Kawah Ijen) dia jatuh sakit. Niat Pingping mengikuti pelaksanaan Upacara HUT Kemerdekaan Indonesia ke-64 di Paltuding itu harus terhenti karena demam yang teramat sangat. Keinginannya untuk bersibuk-sibuk membantu persiapan upacara pun harus berganti dengan bersibuk-sibuk memulihkan kesehatan.

Kepada saya, dia berkisah bahwa dari tanggal 16 Agustus 2009 dia menyengaja menambah frekuensi dan jam tidurnya lebih banyak dari biasanya. Dengan memperbanyak tidur, Pingping berkeyakinan, kesehatannya akan segera pulih, sehingga keinginannya mengikuti upacara yang dimaksud tercapai.

Tetapi kenyataan berkata lain. Meski menambah jam tidurnya, demam itu tetap membekapnya. Hingga pada saat upacara berlangsung, dia pun harus tetap mengurung diri di dalam sleeping bag-nya, tak ubahnya kepompong yang mengumpulkan energi untuk menjemput fase lain, menjadi kupu-kupu.

Melihat foto karya Aner Sandi Basmala ini, mengingatkan saya dengan hasil jepretan kawan saya, Ega Gunawan Budi Utomo. Pada tahun 2002, saya bertemu Ega di sekretariat Yayasan Kappala Indonesia yang saat itu terletak di kawasan Dipowinatan, Yogyakarta. Siang itu, dia datang dengan celana blue jeans yang ditekuk hingga kira-kira 3 cm di atas mata kakinya, tak ketinggalan pula sandal gunung yang kumal. Dengan ransel lusuh yang dicangklongkan pada bagian depan tubuhnya, dia tersenyum, lalu menyodorkan sebuah buku esai fotografi yang berjudul “Cuilan-cuilan Klimaks Pengenalan Lapangan Geologi 2002”. Buku pemberian Ega itu, berisi foto-foto kegiatan opspek Jurusan Teknik Geologi di kampus tempat Ega kuliah.

Jangan bayangkan buku tersebut seperti album foto opspek kebanyakan, karena ini adalah buku esai fotografi yang digarap secara tim. Meski foto opspek, tetapi foto-foto tersebut artistik, bercitarasa, dan tidak asal jepret. Menariknya, foto-foto tersebut juga dipadu dengan ulasan-ulasan kritis, dan tentu saja “tulisan halus” layaknya esai fotografi.

Dari sekian foto, ada satu foto yang hingga kini membekas dalam memori saya. Sebuah foto di halaman 11. Dalam foto tersebut, terlihat 2 orang mahasiswa laki-laki tertidur di alam terbuka, beralaskan tikar. Teriknya sinar matahari siang tidak mampu membangunkan mereka, karena saking lelapnya.

Di bawah foto tersebut tertulis “manusia harus lelah”. Bagi saya tulisan ini provokatif, sekaligus kontemplatif. Sedemikian membekasnya tulisan itu, hingga pada akhir Agustus 2009 lalu, pada saat saya melihat foto Pingping yang tertidur, saya langsung teringat tulisan itu. Apalagi setelah mendengar cerita di balik foto Pingping tersebut.

Lelah memang “keharusan” bagi manusia. Begitu juga dengan tidur. Dengan kalimat yang lebih ringkas, manusia memang harus lelah dan harus tidur. Kedengarannya, kalimat ini memang sangat fatalis dan tidak produktif, tetapi sesungguhnya kalimat tersebut memiliki nilai spiritual dan kontemplatif.

Ada banyak alasan kenapa manusia butuh tidur. Ada yang beralasan untuk menjaga kesehatan. Ada yang takut penuaan dini. Ada yang ingin segera sembuh dari sakit. Ada pula yang menganggapnya sebagai “temporary emergency exit” dari masalah atau stress yang tengah dipanggulnya. Ada yang iseng, jenuh karena tak tahu apa yang harus dikerjakan. Bahkan, ada yang secara hiperbolik menyengaja tidur agar bisa bertemu dengan kekasihnya yang direbut orang, karena hanya dalam alam mimpi dia bisa melepaskan rindu dan memiliki kekasihnya secara utuh. Dan masih banyak alasan lainnya.

Sekian alasan tersebut jika dilihat dari sudut pandang manusia—terutama aspek fisikalnya—memang akan menghubungkan tidur dengan kata “butuh”, bukan “harus”. Sehingga tidaklah terlampau salah jika disimpulkan bahwa tidur adalah kepentingan manusia. Atau dengan sedikit kasar, kepentingan tubuh. Kepentingan badaniyah, bukan ruhiyah.

Namun jika kita melihatnya secara teologis, maka tidur pada hakekatnya adalah kepentingan Tuhan dalam mengenalkan eksistensinya. Dalam teologi Islam (baca: tauhid), dijelaskan bahwa Tuhan itu memiliki sifat wajib dan sifat mustahil.

Salah satu sifat Tuhan dalam teologi Islam tersebut adalah “mukhalafatu lil hawaditsi”, yang kurang lebih berarti: tiada yang menyamai, atau dalam terjemahan yang populer “mukhalafatu lil hawaditsi” itu bermakna: berbeda dengan ciptaannya. Artinya, Tuhan sebagai Khalik (pencipta) atau kreator berbeda dengan makhluk (ciptaan) atau kreasi-Nya.

Konsep “mukhalafatu lil hawaditsi” ini baik ditinjau secara spiritual, filsafati, maupun rasional adalah konsep teologi yang logis. Tidaklah mungkin pencipta sama-persis dengan ciptaannya. Tidaklah mungkin tukang batagor sama-persis dengan batagor kreasinya. Tidaklah mungkin tukang kayu sama-persis dengan kusen dan pintu ciptaannya. Tidaklah mungkin pelukis sama-persis dengan lukisannya. Tidaklah mungkin Steve Job sama-persis dengan komputer Apple Macintosh yang diproduksinya. Tidaklah mungkin Thomas Alva Edison sama-persis dengan lampu buatannya. Tidaklah mungkin James Watt sama-persis dengan mesin uap temuannya.

Jadi sesungguhnya, tidur itu adalah alat bagi Tuhan untuk mengenalkan eksistensi-Nya kepada kita. Dengan redaksi lain, lewat tidur Allah SWT bermaksud menyatakan bahwa Dia berbeda dengan kita sebagai ciptaannya. Lewat tidur, Allah SWT “meng-agitasi” kita untuk mengerahkan rasionalitas kita agar lebih mendalami konsep “mukhalafatu lil hawaditsi”.

Mengelola jagat raya ini memerlukan keperkasaan dan kewaspadaan yang maha tinggi. Mendesain, memelihara, serta mengatur mikro dan makrokosmos jelaslah butuh ketelitian dan kekuatan yang dahsyat. Lalu apa jadinya jagat raya, mikrokosmos, makrokosmos dan kita, jika Tuhan memiliki kebutuhan tidur seperti layaknya manusia? Tuhan tidak tidur saja, banyak manusia yang ingkar dan membangkang, apalagi jika Tuhan tidur. Pastilah akan terjadi kerusakan dan kejahatan besar ketika Tuhan tidur. Mungkin ketika Tuhan tidur, kita akan berpikir, “Inilah saat yang tepat untuk melakukan kejahatan. Kelakukan kita tidak mungkin dicatat sebagai dosa, karena Tuhan tidur.”

Jika Tuhan tidur, maka mikrokosmos dan makrokosmos akan chaos. Sunatullah alias hukum alam yang telah ditetapkan Allah rabbul alamin akan diabaikan. Jika Tuhan tidur, bisa jadi matahari, planet, asteroid dan benda-benda langit akan berkehendak sendiri tanpa lagi terikat oleh sunatullah. Bumi pun bisa pergi dari garis edarnya menuju konstalasi yang akan mematikan kita sebagai makhluk hidup. Jika Tuhan tidur, maka pada masa itu sunatullah tidak hanya akan menjadi sebuah hukum yang in-konsistensi, tetapi tiap-tiap ciptaan seperti galaksi, energi fusi, gelombang, gravitasi, sinar kosmik, dan bintang akan mempertunjukkan ego-nya masing-masing. Mereka akan adu kekuatan untuk menunjukkan siapakah yang paling perkasa di semesta ini.

Lewat rehat, lelah, dan tidur, Allah seakan ingin menyatakan kepada kita bahwa jagat raya, mikroskosmos dan makrokosmos tidaklah mungkin didesain dan diurus oleh “sesuatu” yang bisa lelah, “sesuatu” yang butuh rehat, “sesuatu” yang bisa mengantuk, dan “sesuatu” yang bisa tidur.

Rehat, lelah, dan tidur memang hanya diperuntukkan bagi kita, bukan bagi Allah azizur rahim (Sang Perkasa yang penyayang). Saking seriusnya perkara rehat dan tidur ini, sampai-sampai Allah meminta kita menyebut nama-Nya ketika hendak rebah di peraduan. Cobalah resapi doa ketika akan tidur, yang berbunyi “Bismikallahumma ahya wa bismika ammut” (dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan menyebut nama-Mu aku mati). Duhai, betapa romantisnya Allah, hingga Dia ingin nama-Nya kita sebut-sebut sebelum kita memejamkan mata.

Karena itu, marilah kita beri nilai kepada rehat dan tidur kita. Rehat dan tidur kita, tentu nilainya akan lain jika Allah latifu khabir (Sang Maha halus lagi waspada) kita libatkan. Tidurnya seseorang yang sepenuh hati menyebut nama Tuhannya, tentu nilainya lain dengan mereka yang tidur tanpa doa.

Mari kita dedikasikan rehat dan tidur kita sebagai bukti pengakuan jujur kita kepada-Nya bahwa kita adalah sesuatu yang lemah dan fana. Seperti yang dinyanyikan oleh Dialog Dini Hari (band indie asal Bali), “…rehat sekejap, kita perlu istirahat…rehat sekejap, syukuri nikmati anugerah…”*****

Penataban, Banyuwangi, 11 September 2009

Foto oleh: Aner Sandi Basmala (Pentax Optio S10)



Jurnalis Suling dan Jurnalis Jarkoni

Jurnalis Suling dan Jurnalis Jarkoni

Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

Secara kultural, masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang “gemar” mengembangkan atau mengotak-atik sebuah kata, hingga kata yang diotak-atik tersebut terkadang memiliki makna yang meluas. Ambil contoh kata “jimat” yang dioatik-atik menjadi kalimat barang siji dirumat (barang sebiji yang dirawat). Ada juga contoh lain, yakni “guru”, yang kemudian dimengerti sebagai sosok yang digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditiru). Dunia kesenian, khususnya seni musik, juga tak luput dari otak-atik ini. Misalnya, “suling” yang berarti nyusuli wong kang eling (menjemput orang yang ingat).

Spirit “suling” inilah yang semestinya menjadi energi terbesar bagi para jurnalis. Jika secara sederhana, “suling” dimaknai sebagai nyusuli wong kang eling, tentunya sebagai sebuah spirit atau sebuah internalisasi nilai yang merasuk, jurnalis tidak hanya menjemput mereka yang selalu ingat. Tetapi lebih daripada itu, jurnalis secara naluriah akan mengingatkan siapapun tentang kebenaran tanpa menghitung apakah jumlah wong eling lebih sedikit ataukah lebih banyak jika dibanding wong lali (mereka yang lupa).

Jurnalis yang termotivasi untuk menjadi “suling” kebenaran, tentulah berlainan dengan jurnalis yang coba-coba, apalagi jurnalis yang memperalat profesi jurnalistiknya sebagai alat pemuas nafsu bendawi semata. Jurnalis yang menjadi “suling” kebenaran adalah jurnalis yang dengan sadar meng-konsep dirinya menjadi pengabar kebenaran. Jurnalis semacam ini akan menghindari penjungkirbalikan fakta dan manipulasi data, karena menyampaikan kebenaran adalah kehormatan dan harga diri tertinggi.

Jurnalis yang dengan sengaja meng-konsep dirinya sebagai pengabar kebenaran tentunya akan memiliki kadar kesetiaan profesi yang berlainan dengan jurnalis pemalsu kebenaran. Jurnalis yang selalu bangga dan bahagia ketika mengabarkan kebenaran akan memiliki daya tahan dan daya juang yang berlainan dengan jurnalis gadungan. Pun, jurnalis pengabar kebenaran akan memiliki kepuasan batin yang berlainan dengan jurnalis preman. Jurnalis preman sesungguhnya adalah “orang sakit” yang kerapkali mengalami orgasme psikis ketika dirinya berhasil menakut-nakuti orang yang diterornya.

Karena itu sesungguhnya untuk mengenali jurnalis yang memiliki spirit “suling”, tidak cukup hanya dengan menelaah kecakapan jurnalistiknya saja. Untuk mengenali jurnalis sejati, kita bisa merabanya lewat kadar kepekaannya terhadap kebenaran, serta keberpihakannya terhadap keadilan. Dan yang tak kalah penting adalah keselarasan antara karya jurnalistiknya dengan sikapnya sehari-hari. Keselarasan inilah yang disebut sebagai “satunya kata dan perbuatan”.

Lewat sudut pandang ini kita bisa menilai. Ketika seorang jurnalis menuliskan tentang penegakan kebenaran, sementara kesehariannya sangatlah jauh dari kebenaran, maka sesungguhnya dia bukanlah jurnalis sejati. Jurnalis macam itu, bukanlah jurnalis yang memiliki spirit “suling”.

Jurnalis yang justru memiliki andil dalam merobohkan kebenaran, sebenarnya adalah jurnalis “jarkoni”. Ya! Jarkoni. Iso ngajari, ning ora iso ngelakoni (bisa mengajari, tetapi tidak bisa menjalankan apa yang diajarkan).*****

Catatan: selain termuat di “Lintas Timur” edisi 34/th. III/ Minggu IV/ Agustus 2009, tulisan ini juga tersaji di www.ketanduren.blog.com

ros_spektrum-ikan_4-blog



Kreator, Inspirator, dan Plagiator (Versi Lengkap)

Kreator, Inspirator, dan Plagiator

(versi lengkap)

Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi

Awalnya, dia merasa hidupnya tidak berarti. Baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Tetapi setelah menonton tayangan TV yang berkisah tentang seorang suster yang telah mengabdikan hidupnya selama 28 tahun membantu penduduk di pulau-pulau terpencil yang bertebaran di Laut Flores, dia pun menemukan titik balik yang mencerahkan.

Dia adalah Harry Candy, yang mengaku terinspirasi oleh kesabaran dan ketulusan Suster Rabiah. Sedangkan, Rabiah—sang inspirator—adalah seseorang perawat yang kerap kali “mengambil” peran dokter, karena memang tidak ada dokter yang berkeliling di pulau-pulau terpencil tempatnya bertugas. Dikisahkan, tak jarang Rabiah harus memberikan obat-obat kadaluarsa kepada pasien, karena obat-obat baru adalah barang langka di wilayah tugas Sang Suster Apung Rabiah.

Sejak saat itu, Harry Candy makin rajin menonton Kick Andy, mata acara Metro TV yang menayangkan kisah Suster Apung Rabiah. Jangan bayangkan menonton Kick Andy tersebut semudah kita menontonnya di Banyuwangi. Harry harus bersepeda motor sejauh 40 km demi menyaksikan tayangan yang dipandu Andy F. Noya itu. Ini terjadi karena di tempat bekerjanya, di Kab. Barru, Kotamadya Pare-Pare, Sulawesi Selatan, sinyal televisi tidak dapat ditangkap. 

Jangan bayangkan pula Harry menonton di rumah kawan karib atau sanak saudaranya, sehingga dia bisa sekalian bermalam. Harry menonton acara kesukaannya tersebut di warung-warung yang kebetulan memiliki televisi. Sebab itu, tidaklah mengherankan, jika lelah mendera, Harry menumpang tidur di pompa bensin yang ada di rute yang dilaluinya.

Sejak menemukan titik balik pencerahannya, Harry pun tergerak membantu petani tambak udang tradisional di Pare-Pare. Sebagai karyawan sebuah perusahaan pembibitan udang, Harry mendermakan sebagian ilmu, waktu dan tenaganya demi melakukan penguatan bagi petani-petani tambak itu. Hingga nuansa cerah tak hanya membias kepada Harry, tetapi juga kepada petani-petani tambak tersebut. Jika sebelumnya, mereka hanya menuai keuntungan sebesar Rp. 300 ribu, maka semenjak Harry bergerak melakukan penguatan, para petani tambak itu bisa memetik keuntungan Rp. 15 juta sekali panen.

Kalau Harry mengaku terinspirasi oleh Suster Apung Rabiah. Maka lain halnya dengan tim Kick Andy sendiri. Setelah membaca tulisan Harry di situs Kick Andy, mereka malah mendapatkan inspirasi balik atau semacam feed back. Singkatnya, Harry yang mengaku terinspirasi oleh Suster Apung Rabiah dan acara Kick Andy tersebut, justru menginspirasi tim Kick Andy untuk mencari Harry, dan mengundangnya sebagai tamu kehormatan di HUT ke-2 Kick Andy.

Rentetan kisah ini menyadarkan saya, bahwa kondisi saling terinspirasi (terilhami) dan saling menginspirasi bukalah sesuatu yang tidak mungkin. Pelajaran ini makin menguat ketika saya baca 2 buah esai Andy F. Noya yang berjudul Empati dan Bunuh Diri (keduanya termuat dalam buku Andy’s Corner: Buku kedua Andy F. Noya).

Dalam esai Bunuh Diri, dikisahkan ada seorang guru perempuan yang mengaku mengurungkan niatnya untuk bunuh diri setelah menonton salah satu episode Kick Andy. Guru perempuan itu terinspirasi untuk berani menghadapi hidup.

Lantas bagaimanakah dengan Andy F. Noya, sang inspirator itu? Dalam esai Empati, Andy menceritakan bahwa dirinya sering membayar karcis tol bagi mobil yang tepat mengantri di belakangnya. Andy melakukan hal tersebut karena ingin membuat kejutan yang menyenangkan bagi pengendara mobil yang berada di belakangnya, tanpa mempedulikan siapakah pengendara mobil tersebut. Andy berharap, dengan memberikan kejutan yang menyenangkan, pengendara mobil yang berada di belakangnya akan merasa bahwa hari yang dijalaninya merupakan hari yang indah. Lantas, di hari yang indah tersebut, sang penerima kejutan akan menceritakan kebahagiaanya kepada orang yang ditemuinya. “Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang,” tulis Andy.

Dalam esai Empati, Andy mengakui, dia melakukan kejutan menyenangkan itu karena terinspirasi oleh sebuah cerita yang terdapat dalam salah satu seri buku Chicken Soup for Soul (Sup Ayam untuk Jiwa).

Kondisi saling terilhami dan saling mengilhami juga kita dapati dalam dunia kreativitas, khususnya kesenian. Kira-kira 6 tahun yang lalu, lewat Campur-Campur—sebuah live talk show ANTV yang dipandu Rina Gunawan—Slank pernah mengaku bahwa Rolling Stones adalah sumber inspirasi bermusiknya. Di beberapa wawancara di media cetak, John Paul Ivan—mantan gitaris Boomerang—pernah menyatakan bahwa permainan gitarnya banyak diilhami oleh sosok gitaris legendaris Jimi Hendrix. Dik Doank juga tidak risih mengakui bahwa dia sering terinspirasi oleh legenda hidup musik Indonesia Iwan Fals. Ariel Peterpan juga tidak sungkan menyatakan bahwa proses kreatifnya memperoleh influensi atau pengaruh dari Oasis,  dan The Cranberries. Demikian pula Irfan—gitaris Samsons—yang menyatakan bahwa keputusannya untuk hidup sebagai musisi dan pencipta lagu, banyak diinspirasi oleh gitaris Sheila on 7, Eros Chandra. Bahkan, ketika desas-desus bubarnya Sheila on 7 merebak, di salah satu tayangan infotainment, Irfan menyatakan keprihatinannya. “Kalau bisa Sheila on 7 jangan bubar, karena mereka yang menginspirasi saya untuk memilih hidup sebagai musisi,” kata Irfan dengan mimik bersungguh-sungguh.

Dalam dunia kreatif, khususnya kesenian, ada satu istilah yang cukup dikenal, yakni influence (influensi; keterpengaruhan). Seorang kreator (pencipta) atau pelaku kesenian bisa saja mendapatkan ilham dari sosok yang dikaguminya, lalu menghasilkan sebuah karya yang memiliki sedikit pengaruh sosok sang inspiartor, tetapi ke-diri-an sang kreator tetap tampil lebih kuat. Kondisi inilah yang dinamakan influence. Sebuah kondisi yang samasekali beda dengan plagiat (penjiplakan).

Maaf dengan dengan sedikit jorok, saya menganalogikan kondisi influence ini dengan prosesi makan dan berak. Pola dan makanan yang kita makan akan mempengaruh baik-buruknya proses dan hasil berak kita. Tetapi—nunsewu—tengoklah sejenak tinja kita. Meskipun tinja kita secara kausalitas merupakan hasil pengaruh bahan makanan dan pola makan kita, tetap saja tinja kita sesuatu yang beda dengan makanan kita.

Dengan analogi hubungan kausalitas makanan dan berak, saya bisa memahami bagaimana Slank melahap Rolling Stones, tetapi keluarnya tetap khas Slank. Rolling Stones hanya jadi penyemangat dan referensi, sedangkan komposisi yang keluar tetap memiliki jati-diri Slank. 

Begitu juga, dengan Ariel Peterpan. Meski mengaku mendapat pengaruh besar dari Oasis,  dan The Cranberries, tetap saja karyanya merupakan sesuatu yang beda dengan Oasis,  dan The Cranberries. Demikian pula dengan Irfan Samsons. Atau bandingkan pula dengan yang diperbuat oleh Harry Candy. Walaupun Harry mengakui, Suster Apung Rabiah adalah sumber inspirasi terbesarnya, tetapi secara teknis, apa yang dilakukan Harry dan Rabiah sangatlah berbeda. Meski mengagumi sosok Rabiah, tetapi kekaguman tersebut tidak lantas mengubah Harry menjadi seorang perawat. Harry tetap Harry, Rabiah tetap Rabiah.

Karenanya lumrah, jika sebagai salah satu juri lomba cipta puisi Bintang Pelajar Pecinta Sastra (BPPS) 2009, saya sedih, ketika menjumpai beberapa puisi yang dikirimkan dalam lomba tersebut ternyata puisi plagiat.

Memang, puisi-puisi yang berlaga dalam lomba yang diselenggarakan Hasnan Singodimayan Centre itu, sebagian merupakan puisi yang mendapatkan influence dari penyair-penyair nasional. Namun sangatlah jelas, puisi yang terinfluensi berbeda dengan puisi plagiat.

Saya juga merasa prihatin, eman, dan getun, ketika dalam lomba baca puisi BPPS 2009, saya menyaksikan beberapa pembaca puisi masih tampil tidak dengan ke-diri-annya sendiri. Yang muncul adalah bayang-bayang pelatihnya, bukan jati-diri aslinya. Yang tampil adalah sosok pembaca puisi yang tidak merdeka. Yang muncul adalah sosok pembaca puisi yang terlampau terkukung oleh instruksi-instruksi pelatihnya. Yang tampil bukan jiwa alamiah sang pembaca, tetapi sebuah sosok yang terlampau berat memikul teori-teori yang dibebankan sang pelatih.

Dalam ranah sastra, khususnya dunia penciptaan puisi, sah-sah saja jika kita kagum dan mendapatkan pengaruh dari para penyair besar, seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sitor Situmorang, D. Zawawi Imron atau bahkan Umbu Landu Paranggi. Namun yang wajib kita sadari, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menjadi mereka.

Demikian pula dalam dunia pembacaan puisi. Memang bukanlah dosa besar jika kita terpengaruh dan mengagumi gaya pembacaan puisi W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sosiawan Leak, Jose Rizal Manua ataupun Emha Ainun Nadjib. Namun yang harus kita insafi, kita adalah sebuah pribadi yang berlainan dengan mereka. Kita bisa saja sesukses mereka, tetapi tidak akan pernah menjadi mereka. Pribadi kita tetap pribadi kita, pribadi mereka tetap pribadi mereka. Bahkan, tidak ada sepasang pun saudara kembar yang kepribadiannya sama 100%.

Sampai kapanpun seorang plagiator (penjiplak), tidak pernah bisa menjadi kreator yang handal. Kecuali bila dia insaf seinsaf-insafnya memilih menjadi diri sendiri, lalu bekerja keras menghasilkan karya sendiri yang orisinil.

Sampai kapanpun seorang plagiator, tidak pernah bisa menjadi inspirator yang menggetarkan hati. Karena yang membuat hati orang lain bergetar bukanlah hatinya sendiri, melainkan hati orang lain yang dia pinjam. Tragis sekali bukan? *****


(Esai diatas termuat dalam Harian Radar Banyuwangi, Minggu, 21 Juni 2009. Esai yang terpampang di blog ini adalah versi lengkapnya, tanpa editing redaktur Harian yang bersangkutan)